Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Lelaki yang Masuk Surga Padahal Dia Tidak Pernah Sholat


Bukhari meriwayatkan dari Abu Ishak, dia mengatakan pernah mendengar al-Barra' radiyallahu'anhu berkata, "Seorang lak-laki bertopeng besi datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  (kinayah dari muka yang ditutupi dengan baju perang). Lalu dia berkata, 
"Wahai Rasulullah, aku berperang dahulu, atau masuk Islam dahulu?"
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, 
"Masuk Islam dahulu, lalu berperanglah!"
Setelah itu dia masuk Islam dan berangkat perang. Akhirnya dia terbunuh. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,  
"Dia telah beramal sedikit, tapi mendapatkan pahala yang amat belimpah" (HR. Bukhari dengan al-Fath, no. 2808)
Al-Hafizh dalam al-Fath telah menjelaskan sebuah hadist. Dia berkata, Ibnu Ishaq dalam buku al-Maqhazi telah meriwayatkan hadist yang menceritakan tentang Amr bin Tsabit radiyallahu'anhu dengan sanadnya yang shahih. Dari Abu Hurairah radiyallahu'anhu dia berkata,  
"Beritahukanlah kepadaku siapa laki-laki yang masuk surga, padahal dia tidak pernah melakukan shalat!"
Ibnu Ishaq menjawab,  
"Dia adalah Amr bin Tsabit radiyallahu'anhu."
Kemudian al-Hafizh menuturkan kisah tentang terbunuhnya Amr bin Tsabit dalam Perang Uhud. Dalam cerita tersebut disebutkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguhnya dia teramasuk golongan para penghuni surga,"
Wahai saudaraku, jangan lupa cerita tentang perempuan yang masuk neraka dikarenakan dia telah mengikat kucing. Nabi  shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,  
"Seorang perempuan telah masuk neraka, karena dia telah mengikat kucing dan tidak memberinya makan. Ia juga tidak memperkenankan kucing tersebut memakan sampah yang ada di atas tanah." (HR. Muttafaqun 'Alaih)
Sesungguhnya Allah menentukan dan berbuat apa saja sesuai kehendak-Nya. Allah tidak dimintai pertanggungjawaban  atas apa yang telah dilakukan-Nya, sedangkan manusia akan dimintai pertanggungjawabannya.
Semoga kisah hikmah yang saya tulis ulang dari buku tejemahan Raih Surga dengan Beberapa Menit,  oleh Misbah Sholihon, Lc judul aslinya Jabal al-Hasanat bi Daqa'iq Madudat karya Abu Thalhah Muhammad Yunus bin Abdus Sitar, dapat dipetik manfaatnya.
* By Cekyan,  Palembang,19 Dzulqo'idah 1430 H

READ MORE - Lelaki yang Masuk Surga Padahal Dia Tidak Pernah Sholat

Jangan Bersedih Karena Rezeki Sulit


Mengutip tulisan Muhammad Nuh (dakwatuna.com) "Rezeki dalam kehidupan manusia persis seperti air hujan terhadap tanaman. Ketika curah hujan cukup, tanaman pun kian menghijau, berbunga, dan akhirnya menghasilkan buah. Bedanya dengan tanaman, manusia mestinya tak perlu layu ketika rezeki tak kunjung turun."

Nah ngomongin masalah rezeki pastinya panjang lebar, mungkin nggak muat kalo diposting dalam satu tulisan saja. Tentunya kita sebagai hamba-Nya berusaha mencari rezeki setiap harinya, agar mendapat rezeki yang halal dan barokah. Barokah maksudnya apabila hasil yang kita dapat bernilai ibadah dan barokah di mata Allah sehingga bisa memenuhi kebutuhan, dan bermanfaat dunia dan akhirat. Namun bagi saya sendiri sudah 2 bulan belakangan ini, sepertinya jalan untuk mencari rezeki terganjal sedikit rintangan. Beberapa pekerjaan yang sudah deal dan ready (mengingat pekerjaan saya sebagai freelance desain), tiba-tiba terganjal masalah dan batal. Termasuk pekerjaan yang sudah setengah jalan, dengan alasan yang membuat bingung ?? dimundurkan...

Tentunya hal ini membuat hati saya bersedih...hanya pada-Mu Ya Rabb hamba serahkan masalah ini. Terkait dengan probem rezeki dan sesuai headline postingan kali ini saya mau berbagi buat teman-teman blogger "jangan bersedih". Simaklah apa yang ditulis
DR. Aidh Al-Qarni dalam karyanya La Tahzan Jangan Bersedih... 

Yang memberi rezeki itu hanya satu, Allah Swt. Seluruh rezeki hamba itu berada di sisi-Nya, dan Dia telah mengatur semua itu. Sebagaimana Allah berfirman:
 ”Dan, di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu,” (QS. Adz-Dzariyat: 22).

Jika kita tahu dan yakin bahwa yang memberikan rezeki itu adalah Allah Swt, maka mengapa kita harus menjilat, melakukan korupsi, dan menerima suap yang pada akhirnya itu merendahkan harga diri di hadapan orang lain hanya karena ingin memperoleh rezeki dari sesama manusia? Bukankah mereka juga mendapatkan rezeki juga dari Allah Swt? Allah Swt berfirman:
 ”Dan tidak ada suatu binatang melatapun di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezeki,” (QS. Hud: 6).

Dalam firman-Nya tersebut sudah sangat jelas bahwa Allah Swt akan memberikan rezeki kepada makhluk-Nya di muka bumi ini, tidak hanya manusia bahkan binatang melatapun mendapatkan rezeki sesuai yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Ini berarti kita tidak perlu khawatir akan rezeki yang akan kita peroleh selama kita berusaha untuk mendapatkannya. Sebagaiman firman Allah Swt:
”Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang Allah tahan maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu,” (QS. Fathir:2)

Nah begitu kutipan yang saya petik dari
La Tahzan Jangan Bersedih karya  DR. Aidh Al-Qarni. Buat teman-teman yang tertarik tentang kompleksnya masalah rezeki ini bisa membaca tulisan AA Gym "Penyumbat Saluran Rezeki" . Wallahu A’lam Bis showab semoga postingan ini bermanfaat.


[Ditulis oleh : Cekyan 7/09, Al Quran: Dudung.net]
READ MORE - Jangan Bersedih Karena Rezeki Sulit

Tentara Allah Bernama Lalat

Apa yang tidak mungkin bagi Allah Ta’ala. Semua yang ada di alam semesta ini adalah milikNya. Apapun yang bertebaran di jagad raya ini adalah makhlukNya. Dalam kekuasaanNya. Ia Maha kuasa melakukan apa saja yang ia kehendaki terhadap mereka. Maka begitu mudah, bahkan terlalu mudah bagi Allah untuk mengubah makhluk yang terlihat sangat lemah menjadi tentara perkasaNya.

Air  di masa Nabi Nuh 'Alaihissalam, tongkat kayu biasa di tangan Nabi Musa 'Alaihissalam, burung-burung kecil di masa pra kelahiran
Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam dan angin saat perang Khandaq terjadi; adalah beberapa contoh nyata "tentara-tentara Allah" yang dikendaki olehNya untuk membantu hamba-hambaNya.

Kisah kali ini adalah tentang tentara Allah yang bernama lalat. Yah, tentang lalat yang menjijikan dan biasanya hanya kita dapati di tempat yang kotor. Namun, ia tetaplah makhluk ciptaan Allah. Kisah ini disebutkan oleh Ibn Hujjat Al Hamawy dalam Tsamarat Al Auraq (1/22).

Pada suatu masa, sang penguasa dinasti Fathimiyyah bernama Al Hakim Al Fathimy membangun sebuah masjid jami' di kota Kairo. Namun pada masa akhir kekuasaannya, ia berubah menjadi seorang penguasa berfikiran menyimpang. Ia mengaku sebagai tuhan. Bahkan dalam surat-suratnya ia menuliskan Bismilhakim Ar Rahman Ar Rahim (Dengan nama Al Hakim yang Maha Rahman dan Rahim) sebagai ganti Bismillah Ar Rahman Ar Rahim. Ia bahkan mengumpulkan rakyatnya untuk mengimani hal itu. Dan memberikan aneka hadiah yang amat berharga demi tujuan itu.

Hingga tibalah masanya musim panas meliputi wilayah tersebut. Dan pada saat itulah, Allah Azza wa Jalla menunjukkan bahwa Dia-lah satu-satunya yang berhak disembah. Melalui makhluk lemah bernama lalat, Allah Ta'ala menunjukkan bahwa hanya Dia satu-satunya yang berhak diyakini sebagai Tuhan yang Maha Kuasa.

Tiba-tiba saja begitu banyak lalat yang mengerubuti sang Al Hakim. Seluruh pengawal dan pelayannya berusaha sekuat tenaga dan dengan segala upaya mengusir lalat-lalat itu dari tibuh sang Al Hakim. Namun tak berguna. Lalat-lalat itu mengerubungi sang "tuhan" takk berdaya itu...

Hingga sekonyong-konyong di saat yang membingungkan itu, seorang qari' membacakan dengan suara yang indah Firman Allah Azza wa Jalla:




[Al-Hajj:73] Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.  




[Al-Hajj:74] Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. 

Ayat-ayat ini sekonyong-konyong membuat para pengikut dan rakyat Al Hakim itu terhenyak. Keyakinan mereka menjadi goyah. Ayat-ayat itu seolah-olah senagaja diturunkan untuk mendustakan dan membantah pengakuan sang Al Hakim...Kerumunan lalat itu telah menyadarkan orang banyak akan kebodohan mereka mengikuti seruan sang Al Hakim. Lalat-laat itu benar-benar telah menjadi tentara-tentara Allah. Tidak menyakiti memang, namun "guncangan" nya menggoyahkan kekuasaan sang penguasa...Sang penguasa itu jatuh dari singgasananya. Ia kemudian lari karena khawatir akan dibunuh.

Maka jangan pernah meremehkan kekuasaan Allah. Di TanganNya, segala sesuatu dapat berubah menjadi apa saja yang Ia kehendaki bahkan sebelum mata kita berkedip untuk kedipan selanjutnya atau sebelum jantung kita berdetak untuk detakan selanjutnya...semua dapat berbalik; yang nampak besar dan digdaya dapat segera menjadi lemah tak berdaya; dan yang lemah tak berdaya dapat segera berubah menjadi kuat dan perkasa...bahkan kurang dari hitungan detik...

Waspadalah! Khususnya bagi Anda yang merasa dari berkuasa....

Sahabat blogger, cerita ini saya kutip dari salah satu koleksi perpustakaan pribadi "Pengantin Surga", karya Abul Miqdad Al-Madany, terbitan Mujahid Press. Nah kalau kamu browsing dengan google dengan keyword  'lalat', maka jangan luapa untuk membaca berita.liputan6.com atau kompas dan rujukan tentang serupa bisa didapati di harunyahya.

[Ditulis ulang oleh : Cekyan 6/09, Al Quran: Dudung.net]
READ MORE - Tentara Allah Bernama Lalat

Nikmat Kecil yang Disepelekan Manusia

Ada beberapa nikmat yang dianggap kecil atau disepelekan oleh manusia, sehingga mereka tidak mensyukuri nikmat itu. Diceritakan bahwa seorang arif menemui khalifah, lalu meminta segelas air dan berkata, 
"Wahai Amirul Mu'minin, seandainya engkau dalam kondisi haus dan tidak mendapatkan air di mana pun, kecuali hanya segelas ini, apakah engkau akan menebusnya dengan dunia dan isinya?"
Amirul Mu'minim menjawab,
"Iya."
Kemudian orang arif itu berkata, 
"Minumlah, semoga Allah memberkati kita."
Setelah Amirul Mu'minin meminumnya, orang arif itu kembali bertanya,
"Wahai Amirul Mu'minin, seandainya engkau tidak dapat mengeluarkan air itu dari tubuhmu, kecuali dengan tebusan dunia dan isi-nya, apakah engkau akan melakukannya ?"
 Amirul Mu'minin menjawab,
"Iya."
 Kemudian, orang arif itu berkata,
"Wahai Amirul Mu'minin, sedikit air saja, tidak mampu engkau keluarkan, lalu apa yang menjadi kekuasaanmu?"
Dalam dialog tersebut tergambar bahwa dunia dan isinya tidak berarti jika dibandingkan dengan kenikmatan meminum seteguk air dan kenikmatan dan kenikmatan mengeluarkan-nya dari dalam tubuh.
Cerita ini, saya kutip dari salah satu koleksi buku pribadi "Tarbiyatun Nafs, Mendidik Jiwa Ala Rasulullah", karya Dr. Muhammad Mansur, terbitan Senayan Abadi Publisihing. Semoga kita dapat memetik hikmah dari luasnya lautan ilmu dalam Islam. [By: Cekyan 6/09/ Image:net]
READ MORE - Nikmat Kecil yang Disepelekan Manusia

Prakata

Aku hanyalah orang biasa, di blog ini hanya ingin berbagi tentang hal-hal sederhana. Semua materi yang disajikan hanya untuk konsumsi pribadi. Tetapi, bagi teman-teman blogger yang tertarik dengan content yang ada silakan dicopy-paste.

Artikel Terbaru

Feedburner Tegakkan Sunnah™

Tegakkan Sunnah™

↑ Tambahkan Headline ini pada Blog/Site kamu!


Masukkan email kamu disini:

Didukung oleh FeedBurner